Wawancara

MERAYAKAN TAHUN BARU MASEHI
Oleh : Muhammad Faisal Rokhman

Apakah boleh orang islam ikut merayakan atau menyambut tahun baru masehi ?

Sebenarnya tidak masalah, meski kita tau bahwa tahun baru masehi bukan tahun baru islam, karena tahun baru islam itu adalah tahun baru hijriyah yang diawali dengan bulan muharram, atau juga disebut dengan tahun baru qomariyah karena metode perhitungannya lewat perputaran rembulan sedangkan tahun baru masehi itu disebut dengan tahun baru syamsiyah karena metode perhitungan dengan menggunakan perputaran matahari. Dan yang terpenting kita harus tau dalam menyambut tahun baru islam (hijriyah) dengan berdzikir, membaca yasiin, membaca ayat kusi sebanyak 360 kali yang dianjurkan oleh ulama dulu.

Tidak apa-apa bila datang datang tahun baru masehi kita ikut sambut dengan menjadikan momentum untuk memulai semangat baru, melakukan hal-hal yang yang positif serta meningkatkan kualitas pada diri kita seprti : satu dalam melaksanakan shalat berjamaah, apabila kita sering meninggalkan shalat berjamaah misalkan, dengan datangnya tahun baru masehi ini menjadikan awal agar kita selalu melaksanakan shalat berjamaah, ada hadist yang mashur mengatakan
 صلاة الجماعة افضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة yang artinya “Salat berjamaah lebih utama dari pada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat”, begitu mulianya shlat berjamaah, diceritakan pada suatu ketika sahabat Umar bin Khattab Ra ketinggalan shalat berjamaah ashar dengan rasul, akhirnya sahabat umar mengelilingi kampung mencari orang yang belum melaksanakan shalat ashar untuk diajak shalat berjamaah dengannya, karena penduduk kampung tersebut semuanya sudah melaksanakan shalat ashar berjamaah dengan rasul akhirnya sahabat Umar bin Khattab pulang kerumah melakukan shalat ashar sendiri sebanayak dua puluh tujuh kali. Keterlambatannya sahabat Umar bin Khattab dalam shalat berjamaah dikarenakan melihat kebun, akhirnya kebun tersebut seketika itu langsung diberikan kepada rasul untuk kemajuan rasul karena kebun tersebut penyebab bagi dirinya meninggalkan shalat berjamaah satu kali. Sangat menyesal bila kita meninggalkan shalat berjamaah sebab satu shalat berjamaah sama saja dengan shalat sendiri sebanyak dua puluh tujuh kali, maka dari itu para santri bersemangatlah dalam berjamaah, karena shalat berjamaah ini merupakan amal yang senantiasa dilakukan oleh para ulama, kekasih allah, panutan kia rasulullah SAW.

Yang kedua dalam membaca Al Qur’an dengan datangnya tahun baru masehi ini kita nersemngat lagi dalam membaca al qur’an dan mengaji al qur’an, yang dulunya jarang membaca al qur’an sekarang jangan sampai satu hari kita terlewatkan tanpa membaca al qur’an. Terus belajar Al Qur’an dihadap guru jangan sampai belajar Al Qur’an tanpa ada guru, karena jika tanpa diajarkan oleh guru terlebih dahulu bacaan kita bisa keliru bahkan bacaan kita tidak dapat pahala artinya sia-sia. Dijelaskan didalam hadist bahwa “Sesungguhnya Al Qur’an akan datang pada hari qiamat ia akan menolong atau memberi syafaat kepada orang yang membacanya.” didalam alam kubur juga ia kan akan menjadi teman dan menerangi kuburan kita. Sebagai santri mumpung masih berada dilingkungan Pesantren yang dekat dengan guru ayo semangat dalam mempelajari Al Qur’an.

Merayakan tahun baru masehi tidak ada salahnya bagi kita umat muslim, yang salah kita mengikuti seperti mereka (non muslim) yang merayakan tahun baru masehi dengan berhura-hura, berkumpul pemuda pemudi menyalakan kembang api, meniup terompet, yang mana semua itu bertentangan dengan agama islam.



Comments

Popular Posts